Konsep meniadakan Tuhan dalam realitas nyata adalah salah satu bentuk pengingkaran akan nilai-nilai ketauhidan serta nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.Sebab, agama manapun di dunia ini tidak hanya mengajarkan hubungan kemanusiaan saja tetapi agama juga mengajarkan nilai tertinggi yakni hubungan dengan Tuhannya. Ini sesungguhnya mengandung makna ketauhidan dalam dimensi agama.
Pertanyaannya adalah, kenapa kita ber-agama? Pertanyaan ini sungguh sangat klasik, sebab pemahaman secara terminologi akan melahirkan sekian banyak perdebatan dan pandangan yang berbeda satu sama lain dalam melihat konsepsi agama dalam realitas. Artinya, bahwa agama boleh jadi salah ditafsirkan sehingga menimbulkan pembenaran bukan kebenaran.
Artinya, secara etimologi agama mengandung dua pemaknaan "A" artinya Tidak, dan Gama artinya Kacau. Sehingga terjemahan secara literalisasi mengandung makna agama berarti tidak kacau. Sementara secara terminologi agama dipersepsikan sebagai pembawa rahmat bagi seluruh kehidupan manusia (rahmatan lil alamin).
Agama tentu dihadirkan Allah swt di muka bumi ini adalah untuk menjawab kehidupan peradaban manusia. Peradaban masa lalu yakni telah menggambarkan sebuah tatanan kehidupan "dehumanisasi" tidak memanusiakan manusia.
Contoh klasik ini begitu tampak jauh sebelum Islam diturunkan di muka bumi ini kerusakan akhlak telah melanda jazirah Arab tempat kelahiran manusia suci dan tersucikan Nabiullah Muhammad saw.
Realitas masa lalu itu digambarkan buramnya peradaban manusia. Bahkan dalam sejarah panjang kehidupan manusia dilukiskan bahwa sosok perempuan yang dilahirkan hanya untuk dijadikan tontonan serta pemuas hawa napsu bagi kaum laki-laki.
Dan sementara laki-laki yang dilahirkan justru dijadikan sebagai ketakutan yang cukup mendalam dalam kehidupan raja-raja di masa lalu. Nabi Musa as adalah bukti nyata yang mengancam kehidupan kerajaan Raja Firaun.
Tradisi Kultural
Sekalipun harus dipahami bahwa Islam tidak lahir di Eropa bahkan di
Memang sangat klasik, sebab perkembangan Islam di Indonesia tidak lahir di tengah kehidupan masyarakat yang maju. Tetapi Islam lahir di tengah kehidupan masyarakat yang transisi dari sebuah kehidupan yang primitif tanpa agama, kemudian berkembang menuju satu tatanan masyarakat pedagang.
Asumsi dasar perkembangan Islam di Indonesia lahir dari tradisi pedagang yang dibawa oleh para pedagang Gujarat dan
Dalam perjalanan tersebut, tentu sebelum Islam mengalami perkembangan yang begitu cepat, tradisi kultural telah mewarnai wajah peradaban masyarakat
Pengaruh budaya kerajaan Hindu dan Buddha yang ada di Kutai Kertanegara dan Majapahit yang sudah mengkristal dalam kehidupan masyarakat
Sehingga eksistensi Islam sebagai agama sekaligus sebagai ideologi tentu memerlukan waktu untuk mengubahnya. Dengan demikian, memunculkan tesa dalam melihat perkembangan tersebut.
Artinya, realitas budaya adalah fakta dari kehidupan masyarakat di masa lalu, sementara agama adalah satu tatanan yang berdimensi kultural yang secara general mengajarkan nilai-nilai secara universal dalam semua segmentasi kehidupannya.
Tradisi kultural dalam masyarakat Islam telah berlangsung cukup lama, dan itu sangat dirasakan dalam ruang publik kehidupan keberagamaannya. Sebab kristalisasi budaya mau atau tidak harus berhadapan dengan kondisi faktual dari ajaran Islam yang meletakkan ajaran sesuai Alquran dan As-Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup manusia (Why of Life).
Artikulasi Islam budaya atau budaya Islam tentu berbeda di dalam penafsirannya. Islam sebagai budaya tentu mempunyai makna bahwa Islam yang telah diturunkan Tuhan dari langit lewat pewahyuan melalui perantaraan malaikat, bukan hanya sekadar ideologi tetapi Islam lebih sebagai pendorong suatu tatanan dan peradaban.
Sementara budaya Islam adalah dapat dipersepsikan seperti memperingati Maulid Nabi dengan hiasan telur yang beraneka ragam, barasanji, memperingati Israk Mikraj, Nuzulul Quran dan lain sebagainya yang dipandang sebagai bentuk tradisi dalam kehidupan Islam sekalipun memang bahwa tradisi seperti itu tidak pernah ada dalam sejarah Islam di masa lalu.
Tetapi yang pasti bahwa budaya Islam itu adalah bagian dari spirit di dalam mensyiarkan Islam di tengah masyarakat literalisasi kultural yang ada.
Dan harus disadari bahwa Islam yang begitu kompleks dengan berbagai macam masalah sosial yang ada, sudah dapat dipastikan bahwa Islam mau atau tidak harus menjawab tantangan itu. Kristalisasi budaya yang begitu besar pada prinsipnya menjadi tugas utama yang harus dijawab oleh Islam.
Bahkan persepsi yang keliru dalam memandang Islam itu juga menjadi tugas para ulama atau agamawan di dalam menjawab tantangan globalisasi. Sebab fenomena sosial, politik, ekonomi, demokrasi, budaya adalah kompleksitas dari seluruh kehidupan umat manusia kekinian.
Individu manusia ketika didekatkan dengan dominasi sosial maka ia cenderung bertindak individualistik. Ketika ia didekatkan dengan dominasi politik maka ia cenderung berperilaku menghalalkan segala macam cara. Ketika ia didekatkan dengan dominasi ekonomi maka ia cenderung berperilaku seperti rentenir.
Ketika ia didekatkan dengan dominasi demokrasi maka ia cenderung berperilaku seperti kebanyakan orang. Ini fakta dari suatu perilaku dari tatanan budaya.
Namun dari beberapa pendekatan perilaku dalam kehidupan manusia tentu lingkaran budaya masyarakat Islam yang demikian besar telah menempatkan Islam bukan hanya sekadar agama tetapi juga disebut sebagai budaya.
Dari ini sesungguhnya embrional munculnya adanya perdebatan di satu sisi Islam sebagai ajaran (ad din) tetapi juga sebagian orang melihat pada sisi akar budaya masa lalu yang kemudian disebut sebagai budaya.
Padahal sesungguhnya, perbedaan yang paling mendasar tentang agama dan budaya sudah selesai di perbincangkan. Namun realitas kembali menguak ketika munculnya berbagai sekte dalam kehidupan keberagamaan manusia. Munculnya berbagai penafsiran yang menyesatkan antara satu kelompok. Maka, lahirlah pembenaran atas agama.
Epistemologi hermeneutika selalu dijadikan pisau dalam menafsirkan agama dalam ranah kkehidupan manusia sebagai entitas penganut agama. Hal ini perlu dipahami, sebab dalam sejarah Islam tafsir hermeneutika tidak pernah ada. Sekadar kita pahami bahwa hermeneutika sebagai studi ilmu filsafat muncul di dalam menerjemahkan agama dalam kehidupan sosial.
Namun yang perlu diingat bahwa secara etimologis berasal dari kata hermeneuin yang berarti tafsir. Dalam mitologi Yunani, hermeneutika berasal dari kata hermes. Di mana dalam mitologi Yunani hermes adalah salah satu dewa yang bertugas menyampaikan kebenaran kepada masyarakat saat itu.
Tetapi yang paling mendasar adalah bahwa hermeneutika itu adalah instrumen untuk melacak kebenaran bibel dalam agama Kristen.
Jadi pada prinsipnya hermeneutika bukanlah alat analisis untuk menafsirkan Islam dalam konsepsi sebagai agama bukan kultural. Dengan demikian, Islam haruslah diterjemahkan dalam konteks sebagai agama, bukan yang lain sehingga Islam sebagai ajaran tidak bergeser sesuai dengan penafsiran dari individu-individu terhadap Islam itu sendiri.
Kapan ditafsirkan sesuai dengan nilai aqli kita maka pasti membias dan menciptakan stikmatisasi dalam melihat agama sebagai ideologi dan ajaran.
Dan harus diakui bahwa munculnya berbagai sekte, aliran dan nabi-nabi palsu sangat diilhami oleh adanya penafsiran yang berlebihan terhadap esensi dan substansi dari ajaran agama.
Dengan itu, akan menggeser makna agama sebagai tatanan sosial (manhaj sosial), ideologi dalam frame berpikir yang sesat. Tentu berakibat pada penolakan terhadap pembenaran-pembenaran yang dimunculkan oleh sekte yang bersangkutan.
Islam sebagai sifat dasarnya (rahmatan lil alamin), tentu mengajarkan sesuatu yang kaffah (universalitas) dalam dimensi kehidupan manusia, terutama kepada pengikutnya (umat) yang bukan hanya menyentuh aspek budaya saja.
Tetapi Islam sebagai agama universal mengajarkan nilai-nilai kebenaran dalam semua aspek kehidupan umatnya secara totalitas sebagaimana yang teramanahkan dalam kitabullah yang menyatakan "Hai orang-orang yang beriman, masuklah engkau dalam Islam secara kaffah".
Ini mengandung arti bahwa, Islam secara literal menganjurkan kebenaran kepada seluruh umatnya untuk secara totalitas menisbahkan dirinya, baik ia sebagai individu maupun ia sebagai jamaah untuk mengakui Islam sebagai kebenaran,
baik dalam dimensi sebagai ideologi maupun dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya. Sebab, sebagai kata kunci Islam adalah manhaj yang kaffah dalam semua dimensi kehidupan. Amin. (*)
Ketika dewasa ini nilai-nilai dan norma-norma yang korup telah merasuk dalam sistem sosial kita, maka apa yang disebut dengan budaya Islam menjadi buram. Sikap dan tindak-tanduk kita tidak lagi sama dengan nenek moyang kita pada beberapa abad yang lalu. Padahal Islam dapat menyebar dengan cepat dan saat ini Islam menjadi agama kedua terbesar di dunia semata-mata karena sikap dan perilaku keteladanan yang dilakukan dan ditampakkan oleh umat Islam masa lalu. Sebaliknya kita lihat dewasa ini pelanggaran besar terhadap dimensi utama budaya Islam banyak dilakukan oleh umat.
Pada masyarakat kontemporer saat ini, kita agaknya lebih memfokuskan diri pada norma daripada nilai-nilai. Kita lebih terfokus pada perintah dan larangan dan kurang akan nilai-nilai (values). Kultur Islam telah meletakkan fondasi norma dan nilai-nilai, tetapi sebagaimana dikatakan di muka, kita kurang mendapat informasi atau penjelasan tentang nilai-nilai yang begitu esensial dalam rangka menjamin kehormatan dan harga diri kehidupan umat manusia dalam interaksi sosial keseharian kita. Memahami aspek-aspek kognitif dan normatif budaya merupakan dasar untuk memahami kultur dan budaya Islami. Tetapi, terdapat dua dimensi budaya yang memerlukan sedikitnya perhatian singkat kita, yakni integrasi kultur dan relativisme budaya. Ini akan memungkinkan kita untuk memahami bagaimana kultur dapat dipengaruhi oleh kompleksitas masyarakat modern.Integrasi Budaya
Sejumlah sarjana mengatakan bahwa kultur adalah sebuah ‘sistem yang tertata (ordered)’. Ia memiliki banyak unsur-unsur budaya. Dalam masyarakat Islam yang kecil pada masa lalu, kepercayaan agama dan nilai-nilai kekeluargaan terjalin jadi satu dalam tindak tanduk para pemeluk Islam. Hubungan sosial antara orang-orang yang beragama dengan orang biasa terpadu harmonis. Masyarakat Islam secara keseluruhan terintegrasi dengan baik dengan sedikit terjadi adanya friksi dan ketegangan dalam hidup keseharian. Akan tetapi dewasa ini pengaruh-pengaruh kultur modern telah mengarah pada kehidupan yang kurang integratif antara sesama muslim, dan ini terjadi juga pada masyarakat dari agama lain. Tingkat perubahan sosial yang relatif cepat dan adanya kompleksitas serta ukuran struktur sosial menimbulkan banyak terjadinya inkonsistensi dan sejumlah ketegangan. Tidak jarang terjadi sikap yang kurang toleran dan kurangnya saling memahami antara masyarakat secara umum. Umat Islam tidak terkecuali dalam hal ini. Adalah mustahil kita dapat memiliki budaya yang seragam untuk umat Islam seluruh dunia. Alasan yang sederhana untuk ini adalah lingkungan sosial di mana anak-anak muslim bersosialiasi; sedang kalangan muslim dewasa bersosialisasi kembali membentuk berbagai variasi yang beragam antara satu tempat dengan tempat yang lain.
Relativisme Budaya
Ketidakseimbangan sosial ini perlu dikoreksi. Dengan kata lain, dalam rangka untuk mengimbangi sikap intoleransi dan kecilnya saling pengertian yang ditunjukkan masyarakat pada kultur lain, maka terdapat ide dan argumen akan perlunya kita menyadari adanya relativitas budaya di kalangan umat Islam. Relativisme budaya menekankan pada adanya fakta bahwa seluruh kultur manusia pada dasarnya sah dan legitimate dan masing-masing memiliki integritas esensialnya sendiri; setiap budaya dikembangkan oleh perjuangan manusia untuk menciptakan sebuah kehidupan simbolik dalam keadaan-keadaan yang dibatasi oleh lingkungan alam. Karena bersifat selalu berbeda satu sama lain, maka dengan sendirinya tidak ada satupun budaya yang mesti jadi preferensi. Preferensi kita, tentunya masing-masing dari kita memiliki preferensi, hanyalah membuktikan bahwa nilai-nilai dan pilihan-pilihan kita telah dibentuk oleh budaya kita sendiri. Karena itu, dari perspektif relativisme budaya sikap dan perilaku manusia dalam sebuah masyarakat harus dinilai dengan standar kultural masyarakat yang bersangkutan, tidak oleh standar yang lain.
Satu hal yang mesti dicatat bahwa kita cenderung menjadi etnosentris ketika memberi penilaian terhadap masyarakat dan budaya lain dengan standar norma-norma dan budaya kita sendiri. Kita memiliki kecenderungan untuk percaya bahwa apa yang kita tahu dan terima adalah yang terbaik, dan apa yang tampak berbeda dan aneh adalah tidak berguna dan inferior. Sikap ini mungkin kurang tepat. Muslim yang tinggal di tempat, daerah atau negara yang berbeda tidak dapat dan tidak memiliki kultur yang sama. Muslim di suatu negara atau daerah hendaknya tidak jadi wasit penilai terhadap perilaku muslim di negara atau daerah lain dengan mengatakan bahwa mereka lebih superior dibanding yang lain. Hal yang paling esensial adalah mandat Islam pada kita untuk memelihara perilaku kultural utama yang khusus hendaknya tidak dilanggar.
Sebagai salah satu jalan untuk menentang sikap sempit etnosentrisme, relativisme budaya dapat membebaskan dan dapat menghindari konflik dan ketegangan kecil antar-umat yang tidak perlu. Ia dapat membebaskan kita dari ketidakpedulian dan arogansi pola pemikiran bahwa budaya dan nilai-nilai yang kita anut adalah yang terbaik. Relativisme budaya mengajarkan kita berbagai cara untuk menjadi manusia beradab yang telah diciptakan dan dielaborasi, dinilai dan dipertahankan, sepanjang evolusi umat manusia.
Cara-cara yang dilakukan Islam, sepanjang sejarah penyebarannya, adalah untuk memahami. Sedang mempraktikkan relativisme budaya merupakan contoh terbaik dalam kehidupan antar-umat beragama dalam teori dan praktik. Islam tidak mengijinkan pemaksaan budayanya pada yang lain. Islam tidak membolehkan penghakiman atas nilai-nilai yang dianut orang lain. Islam hanya mengatakan kalian ikuti apa yang terbaik yang sesuai untuk umat manusia biasa, tanpa mengganggu rasa sentimen yang lain. Dalam konteks lokal keindonesiaan, di mana pola perikehidupan beragama sangat beragam dan plural termasuk antar-sesama umat Islam sendiri, relativisme budaya saya kira merupakan salah satu cara terbaik untuk menuju sikap hikmah (wisdom) atau arif dan bijak dalam melihat perbedaan-perbedaan ‘kecil’ yang, suka atau tidak suka, sudah terjadi dan, dengan demikian, menjadi realitas kehidupan keseharian. Sikap ini tentu saja juga menyangkut cara pandang kita terhadap para pengikut agama lain.[]
